sponsor

Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Dunia Islam

Tanya Jawab



Di antara sebab takutnya para mulia terdahulu terhadap gelar-gelar yang disematkan pada nama mereka adalah Quran Surat Ad Dukhaan ayat 49.

ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ

“Rasakanlah; sesungguhnya engkau orang yang perkasa lagi mulia!” {QS Ad Dukhaan [44]:49}. Ayat ini tertuju kepada Abu Jahal kelak ketika ia disiksa.

‘Adzab itu; zaqqum menggelegak di perut bagai didihan termulut menganga haus melampaui kepala dituangi air panas dan neraka menyala.

Adalah dulu ia mencengkram Nabi dan berkata, “Apa kau mengancamku Muhammad? Sungguh aku ini Al ‘Azizul Karim, sang perkasa lagi mulia!”

Dalam riwayat lain ia berkata; “Aku Al ‘Azizul Karim; sang perkasa lagi mulia; tiada di antara gunung-gunung Makkah nan melampauiku!”

Maka selain ‘adzab pedih yang menderanya; Allah tambahkan siksa lain; berupa penghinaan. Allah menghinanya dengan gelar yang dibanggakannya.

“Rasakan; sesungguhnya kau SANG PERKASA LAGI MULIA!” {QS: 44:49}. Dalam kalimat ini ada sindiran paling menyesakkan bagi si tersiksa.

Dalam kalimat ini juga ada penistaan yang paling menusuk bagi si terhukum.

Dalam kalimat ini ada tempelak paling menampar bagi pembangga gelar.

Maka, di antara siksaan terpahit di neraka adalah, diungkit-ungkitnya gelar dunia yang disandang hamba oleh Allah untuk menghinanya.

Betapa enggan Abu Bakar dipanggil Khalifah RasuliLlah, betapa tegas Umar menolak dan betapa keras ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz tak hendak.

Betapa galaunya Imam An Nawawi ketika digelari Muhyiddin {yang menghidupkan agama}, sebab beliau takut kelak gelar itu membuatnya ternista.

Amat banyak teladan; betapa khawatir yang benar-benar hebat disebut “hebat”, betapa risih yang betul-betul mulia dipanggil “mulia”.

Sebab selain gelar itu tak menambah hakikat kemuliaan, ia hanya membuat lena; dan dikhawatirkan kelak di akhirat jadi bagian siksa.

Terlebih jika gelar itu bualan tak terbukti; seperti sedihnya diri mendengar yang bergelar miliarder hanya menggaji karyawannya 1/4 UMR.



Tapi semua ceracau ini lebih layak ditudingkan pada diri; yang hatinya masih berbunga mendengar puji dan diam-diam rindu digelari.

Semoga Shalihin dan Shalihat bermurah hati mendoakan kami yang hatinya rapuh, jiwanya rentan dan Allah tampilkan di panggung nan berat ujian.

Semoga Allah selamatkan kita dari syahwat menggagahkan diri dengan gelar dan pujian; sebab betapa sesal dan rugi jika ia jadi siksa nanti.

Doakan guru-guru kita yang dicintai ummat dan disematkan gelar pada mereka; semoga Allah mampukan dan kuatkan untuk memenuhi hak gelarnya. Bagi kita para awam; sungguh Allah Subhanahu Wata’ala menyayangi hamba nan menginsyafi kadar dirinya; tak membebani diri dengan yang tak disanggupinya.

Oleh:Salam Afillah

Abdul Wahid bin Zaid -rahimahullah- mengisahkan:

Kami pernah di perahu, lalu angin menghamparkan kami ke sebuah pulau, maka kami turun ke pulau tersebut. Tiba-tiba di sana ada seorang lelaki menyembah patung. Maka kami menghampirinya, dan bertanya kepadanya: “Wahai lelaki, siapa yg kamu sembah?”. Maka dia menunjuk kepada patung.

Kami katakan: “Di perahu kami ada orang yg bisa membuat benda seperti itu, itu bukan sesembahan yg pantas disembah.

Dia: “Kalau kalian, siapa yg kalian sembah?”.

Kami: “Allah”.

Dia: Siapa Allah itu?

Kami: Dialah yang arsy-Nya ada di langit, kekuasan-Nya ada di bumi, dan keputusan-Nya berlaku bagi yang hidup maupun yang sudah mati.

Dia: Bagaimana kalian mengetahui-Nya?

Kami: Dia yg merupakan Raja yang Agung dan Pencipta yang Mulia ini, mengutus kepada kami seorang Rasul (utusan) yg mulia, dan Rasul itu yg mengabarkan kepada kami tentang-Nya.

Dia: Lalu apa yg dilakukan Rasul tersebut?

Kami: Beliau telah menunaikan amanah risalah (yg diembannya), kemudian Allah mengambilnya kepada-Nya.

Dia: Tidakkah dia meninggalkan tanda bukti untuk kalian?

Kami: Tentu.

Dia: Apa yang dia tinggalkan?

Kami: Beliau meninggalkan untuk kami Kitab dari Raja tersebut.

Dia: Perlihatkan kepadaku Kitab Raja tersebut, tentu Kitabnya Raja itu sangat baik.

Maka kami datangkan mushaf Al Quran kepadanya. Dia mengatakan: “Aku tidak tahu ini”. Maka kami bacakan kepadanya satu surat dari Al Qur’an, kami pun terus membacanya hingga dia menangis, kami membaca lagi dan dia terus menangis, sehingga kami selesaikan satu surat. Dia mengatakan: “Sepantasnya pemilik perkataan ini tidak dimaksiati”.

Kemudian dia masuk Islam, dan kamipun mengajarinya syariat-syariat Islam dan beberapa surat Al Qur’an. Lalu kami mengajaknya bersama kami dalam perahu. Ketika malam menyelimuti kami dan kami beranjak tidur, dia mengatakan: “Wahai kaum, sesembahan ini, yang kalian tunjukkan kepadaku, jika malam datang, apakah Dia tidur?”

Kami menjawab: “Tidak, wahai hamba Allah, Dia itu maha hidup, maha mengatur, dan maha agung, Dia tidak tidur.
Dia: Seburuk-buruk hamba adalah kalian, kalian tidur padahal Pelindung kalian tidak tidur?! Lalu dia mulai dengan ibadahnya, dan membiarkan kami”.

Ketika kami sampai ke negeri kami, kukatakan kepada para sahabatku: “Orang ini baru masuk Islam, dia juga asing di negeri ini”. Maka kami mengumpulkan banyak uang dirham untuknya, dan memberikan kepadanya.

Dia mengatakan: Untuk apa ini?

Kami: Agar kau pergunakan untuk kebutuhan-kebutuhanmu.

Dia mengatakan: La ilaaha illallah… Aku dulu di pulau di tengah laut dan aku menyembah berhala, bukan menyembah-Nya, meski begitu Dia TIDAK MENELANTARKAN aku, apakah Dia akan menelantarkan aku di saat aku mengenal-Nya?!

Kemudian dia pergi mencari nafkah sendiri, dan setelah itu dia menjadi salah seorang yang sangat tinggi kesalehannya, hingga dia wafat. [Kitab Attawwabin, karya: Ibnu Qudamah, hal 179]  (Muslim.Or.Id )

Oleh: Ustadz Musyaffa Ad Darini

Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.Maka sebagai ibadah, memerlukan kesiapan dan persiapan. Ia untuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.

Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturuntukan kemauan. Persiapan hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”

Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar dan nafkah. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) dan makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.

Jika kesiapan diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.

Izinkan saya membagi Persiapan dalam 5 ranah:
  1. Ruhiyah,
  2. ‘Ilmiyah,
  3. Jasadiyah (Fisik),
  4. Maaliyah (Finansial),
  5. Ijtima’iyah (Sosial)
Persiapan perlu start awal. Salim menikah usia 20 tahun, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 tahun, maka tak bisa disebut tergesa.Sebaliknya, ada orang yang nikah-nya umur 30 tahun, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 tahun. Itu namanya tergesa-gesa.

Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan lainnya berpijak pada yang satu ini. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian dan tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi. Sebelum Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan nikmat, ya musibah.

Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait adalah kemampuan mengelola sabar dan syukur menghadapi tantangan-tantangan itu. Sabar dan syukur itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih dan kurangnya. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, dan dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu.
Persiapan Ruhiyah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan. Jika masih terbayang sebagai berikut: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.
Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, dan tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam Nikah. “Apa obsesimu?”

Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu? Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumah tangga dan masalah-masalahnya.

Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dan lain-lain. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga

Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat,melainkan maksud baik nan kurang ilmu Nikah. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki dan perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami dan bersinergi.

Contoh beda hadapi masalah dan tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi Nikah.

Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja. Suami pulang dengan masalah berat disambut isteri yang memaksa ingin tahu dan dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri dan bersolusi.

Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dari Hira’ dengan panik dan resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri dan kontemplasi. Sebaliknya, isteri yang sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.

Isteri: “Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla.”

Suami: “OK, kita cari pembantu. “

Istri: “O, jadi aku dianggap pembantu?!.”

Suami: “Lho?!”

Beda lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai.

Beda lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami.
Istri: ”Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!”

Jawab suami: “Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri”

Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: “Tolong jemput Salma!”

Beda. Bagi suami masalah harus disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail dan keterkaitan sangat penting (Spiral keluar)

Dan banyak lagi beda yang jika tak diilmui potensial jadi masalah serius.

Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jadi suami/isteri, tiba-tiba sdh jadi ayah/ibu. Maka segeralah belajar jadi Ortu. Anak adalah karunia yang hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian).

Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. Contohnya hadits: renggutan kasar pada bayi membekas di jiwa.

Uji kecil buat calon ibu dan ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu gabruss, jatuh berdebam?”

Lazim: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” Anak belajar untuk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.

Lazim: “Iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” Anak belajar salahkan keadaan sekitar untuk excuse dari kurangnya ikhtiyar.

Lazim: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua dan sakit-sakitan.

Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita.
Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta dan tipu) dalam taqwa (QS 4: 9)

Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk. Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, dan ketenagaan. Awal-awal, periksa dan konsultasilah ke dokter atas termungkinnya segala penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi

Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi dan rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama. Fisik kita dan pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya dan staminanya sejak sekarang.

Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelahnya.

Jadi, target persiapan fisik itu 3 tingkatan;
  1. primer: sehat dan aman penyakit,
  2. sekunder: bugar dan tangkas,
  3. tersier: beauty dan charm

Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui dan membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan dan penegasan kepemimpinan suami. Ingat dan catat: Persiapan finansial sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, dan kendaraan yang harus anda punya.

Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, dan kemampuan kelola sejumlah apapun ia. Maka memulai pernikah-an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, dan kendaraan. Ia soal kompetensi dan kehendak baik menafkahi.

‘Ali ibn Abi Thalib memulai bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.
Maka sesudah kompetensi dan kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: itu buat kaya (QS 24: 32)
Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. Tetapi Allah Maha Kaya, dan menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.

Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah dan executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya.

Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta

Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung terhadap serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS

Persiapan yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yang kompleks secara sosial. Sebuah pernikahan yang utuh punya visi dan misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan. Untuk itu, mereka yang akan me hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.

Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait pernikahan dan kehidupan kepada Orangtua bisa jadi bagian dari latihan.

Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah ‘persahabatan’, Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin menikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma’ruf. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dan lain-lain.

Pernikahan kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor. Mulailah dengan perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah adalah yang plg berhak diundang. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai juga dengan perkenalan.

Para tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran.

Setelah itu, target besarnya adalah menjadikan pintu rumah kita sebagai yang paling pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. Tentu berat menopangnya sendiri. Maka yang harus kita punya bukan hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan saling menguatkan.

Ilmuilah bagaimana cara menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dan lain-lain demi tetangga kita.

Tampillah sebagai yang penting dan bermanfaat dalam hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. Tampillah sebagai yang terbaik sejangkau sesuai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dan seterusnya.

Tampillah sebagai nan paling besar kontribusi dalam kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dan seterusnya. Ringkas kata untuk persiapan sosial ini adalah bermampu diri untuk menjadi pribadi dan keluarga yang aman, ramah, bermanfaat

Oleh:Salim A Fillah

“Kasihan ya, dia itu nggak laku-laku.”

“Habis, dia terlalu pilih-pilih sih. Jadinya ya gitu, laki-laki takut mau mendekatinya.”

“Perempuan itu nggak bisa memilih, jadi ya terima saja siapa pun laki-laki yang mau sama dia.”

Berbagai ungkapan sejenis yang bernada sama seringkali terlontar ketika masyarakat kita menyikapi perempuan yang belum juga menikah. Bukannya mendoakan, umumnya mereka memilih nyinyir dan berprasangka negatif terhadap perempuan yang masih melajang di usianya yang melewati ambang layak nikah.

Sahabat muslimah, hidup di zaman ketika Islam semakin jauh dari kehidupan itu memang bukan hal yang mudah. Ada saja suara yang berusaha menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Kita tak akan pernah tahu apa yang telah dilewati oleh seseorang lainnya ketika ia memutuskan sesuatu dalam hidupnya. Begitu juga dalam hal jodoh. Masalah jodoh, menurut saya bukan masalah laku atau tidak laku. Kita tidak sedang berjualan kue apem di sini yang bisa dinilai laku bila laris manis. Begitu sebaliknya, dibilang tak laku bila stok yang tersedia masih banyak.
Jodoh adalah masalah hidup dan mati, dunia dan akhirat. Betapa banyak istri yang tersiksa bahkan mati di tangan suami. Mungkin contoh ini terlalu ekstrem. Baiklah sedikit kita ambil contoh tentang betapa banyak istri yang memunyai suami tak pantas disebut imam yang akan menuntunnya ke surga. Suami yang enggan melaksanakan salat lima waktu, tidak memberi nafkah yang layak pada istri dan anak, dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Belum lagi suami yang suka mengucap kata talak atau cerai dengan begitu ringannya tapi masih juga enggak dengan resmi berpisah dari istrinya.
Masyarakat yang memperlakukan laki-laki seolah lebih istimewa daripada perempuan juga menjadikan hal ini lebih runyam. Permakluman selalu ada bagi laki-laki yang suka berganti pasangan, merokok, minum-minuman keras, suka begadang tak jelas, keluyuran ke tempat-tempat maksiat. Orang akan menyebutnya jantan. Memang begitu seharusnya laki-laki. Cap yang berbeda akan diberikan pada perempuan dengan sebutan bejat atau wanita nakal.

Masyarakat berharap perempuan sebagai tiang negara harusnya bersikap sopan, anggun dan baik. Seiring dengan semakin tingginya pendidikan dan kesadaran perempuan terutama muslimah akan agamanya, semakin selektif mereka memilih suami. Persoalan tak lagi terletak pada laku atau tidak, tapi sudah menginjak masalah prinsip. Tidak semua perempuan yang masih bertahan melajang itu karena tidak ada laki-laki yang mau. Sebaliknya, tidak semua perempuan yang menikah itu merasa dirinya bahagia, bersorak hore karena akhirnya ada yang mau. Tidak sesederhana itu.

Akan jauh lebih baik adalah menghormati keputusan seseorang dalam kehidupannya termasuk dalam hal menikah atau belum. Sungguh, secara kodrati tak ada manusia yang suka hidup sendiri. Tapi bila yang datang masih belum memenuhi kriteria dan tak sanggup menghantar ke ridho Ilahi, bukan pilihan yang salah ketika melajang menjadi pilihan diri. Kita tak tahu betapa kondisi ini juga bukan hal yang mudah bagi para muslimah yang masih melajang. Kita tak tahu beban apa yang harus dipikulnya. Tak perlu kita menambah beban tersebut dengan kata-kata yang tak pantas. Cukup doa dan kata-kata baik yang terlontar, itu bisa menjadi bekalnya untuk melewati hari. Apabila kita memang memunyai kenalan laki-laki salih, maka menawarkan untuk memperkenalkan mereka itu jauh lebih baik daripada hanya berkomentar tanpa memberikan solusi.

Wallahu alam.
(fauziya/voa-islam/muslimahzone.com)
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Bapak ustadz yang terhormat, Saya ingin bertanya perihal jilbab. Saya mempunyai seorang teman yang bertanya mengenai jilbab. Ia ingin menggunakan jilbab akan tetapi ia bingung apakah harus siap dan memperbaiki hati terlebih dahulu sebelum memakai jilbab atau langsung aja memakai jilbab dan urusan hati sambil berjalan?
Terima Kasih,
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihihi ajma’in, wa ba’du. Antara hati dan perbuatan sebenarnya sama-sama penting, sehingga tidak perlu dipilih mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Lagi pula, sulit untuk menilai urusan hati atau membuat standarisasinya. Kalau alasan belum mau pakai jilbab karena hatinya ingin diberesi dulu, sebenarnya agak mengada-ada. Sebab siapa yang akan menilai bahwa hati seseorang sudah bersih dan baik? Dan bagaimana cara menilainya? Lalu sampai kapankah hatinya sudah bersih dan siap untuk pakai jilbab?

Sebenarnya kewajiban memakai jilbab tidak pernah mensyaratkan seseorang harus bersih dulu hatinya. Kewajiban itu langsung ada begitu seorang wanita muslimah masuk usia akil baligh. Dan satu-satunya tanda bahwa dia sudah wajib memakai jilbab adalah tepat ketika dia mendapat haidh pertama kalinya. Saat itulah dia dianggap oleh Allah SWT sudah waktunya untuk memakai jilbab. Tidak perlu menunggu ini dan itu, karena kewajiban itu sudah langsung dimulai saat itu juga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada anak wanita Abu Bakar ra, Asma’ binti Abu Bakar ra.
Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Asma’, seorang wanita bila telah haidh maka tidak boleh nampak darinya kecuali ini dan ini. Rasulullah SAW memberi isyarat kepada wajah dan tapak tangannya.”
Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa bila sudah bersih hatinya, atau bila sudah baik perilaku atau hal-hal lain, namun secara tegas beliau mengatakan bila sudah mendapat haidh. Artinya bila sudah masuk usia akil baligh, maka wajiblah setiap wanita yang mengaku beragama Islam untuk menutup auratnya. Dan uaratnya itu adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua tapak tangan.

Ketentuan ini juga diperkuat dengan firman Allah SWT di dalam Al-Quran Al-Kariem tentang kewajiban memakai kerudung yang dapat menutupi kepala, rambut, leher dan dada.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya… (QS. An-Nur : 31)
Namun bukan berarti kalau sudah pakai kerudung, boleh berhati jahat atau buruk. Tentu saja seorang wanita muslimah harus berhati baik, berakhlaq baik dan berperilaku yang mencerminkan nilai keimanan dirinya. Tapi semua itu bukan syarat untuk wajib pakai jilbab. Sebab keduanya adalah kewajiban yang tidak saling tergantung satu dengan yang lainnya.

Wallahu A’lam Bish-shawab
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Oleh:Ahmad Sarwat, Lc.