sponsor

Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Dunia Islam

Tanya Jawab

» » Berzina Sehari Sebelum Menikah, Sahkah Nikahnya?


mencintai dengan sederhana Rabu, Maret 14, 2012 0


Assalamu’alaikum. Ustadz, maaf jika mengganggu. Saya sedang bingung dan takut. Saya telah menikah dengan suami selama 10 tahun. Kami baru tahu bahwa syarat menikah bagi yang pernah berzina selain taubat adalah melakukan Istibro’. Maaf ustadz, kami telah khilaf dengan melakukan hubungan badan sehari sebelum hari pernikahan. Kami sangat menyesal dan bertaubat setelahnya. Hingga hari besoknya kami menikah. Apakah nikah kami ini sah atau harus diulang karena belum terlewati satu kali masa haid?jika harus menikah ulang apakah bisa langsung dilaksanakan tanpa melakukan Istibro’ lagi (saat ini saya sedang haid). Anak kami lahir 2,5 tahun kemudian. Bagaimana statusnya? Mohon nasehat ustadz. Jazakallah.
HP.08525104xxxx

Wa'alaikumussalam Warahmatullah

Pernikahan tersebut harus difasakh (dibatalkan) kemudian menikah lagi dengan Akad nikah baru (dengan wali,dua saksi, dan juga mahar baru), tanpa melakukan Istibro’. Anak yang telah terlanjur lahir Nasabnya tetap sah sehingga berlaku hukum-hukum yang terkait Nasab seperti aspek kemahraman, perwalian, warisan, nafkah, shilaturrahim, Birrul Walidain, dll.

Akad nikah yang didahului perzinaan dan Akad pernikahan tersebut dilangsungkan tanpa melakukan Istibro’ (bagi yang belum faham konsep Istibro’ silakan dibaca soal-jawab berjudul; Puasa Dan Flek Saat Hamil dan Menikahi wanita yang pernah berzina), maka Akad tersebut adalah Akad Fasid (rusak). Akad nikah yang Fasid harus difasakh (dibatalkan/dibubarkan) karena Akad tersebut telah melanggar salah satu ketentuan syariat, yaitu diabaikannya kewajiban Istibro’ bagi wanita. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memisahkan pasangan suami istri yang diketahui pihak wanitanya hamil karena perzinaan. Abu Dawud meriwayatkan;


Dari Sa’id bin Musayyab bahwasanya seorang lelaki bernama Bashroh bin Aktam menikahi seorang wanita (yang telah hamil karena perzinaan)-lalu perawi menyebut lafadz yang semakna dengan lafadz sebelumnya dan menambah- dan beliau (Rasulullah SAW) memisahkan keduanya (dari ikatan pernikahan) (H.R.Abu Dawud)

Pemisahan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tersebut menunjukkan bahwa Akad nikahnya Fasid dan harus difasakh (dibatalkan/dibubarkan). Keharusan fasakh ini berlaku pada semua Akad nikah yang Fasid seperti menikah tanpa wali, atau menikah dengan wali tapi tanpa saksi, atau menikah di masa Iddah dan semisalnya.

Setelah Akad nikah difasakh, maka dilangsungkan Akad nikah baru dengan wali, saksi dan mahar yang baru pula. Diharuskannya melangsungkan Akad nikah baru dengan wali dan saksi serta mahar yang baru dikarenakan Akad nikah sebelumnya telah difaskah sehingga dianggap tidak ada. Untuk mewujudkan ikatan pernikahan yang baru lagi, maka perlu dilakukan Akad nikah baru dengan segala ketentuan Akad nikah yang menyertainya. Mewujudkan ikatan pernikahan baru itu tidak cukup hanya dengan Ruju’, karena Fasakh bukan Talak. Jadi yang berlaku adalah ketentuan-ketentuan Fasakh terhadap Akad nikah bukan ketentuan-ketentuan Talak seperti menjalani masa Iddah, kebolehan rujuk kembali, kewajiban memberikan nafkah dan Sukna (tempat tinggal) untuk wanita yang ditalak dll. Mahar yang dibayarkan pada Akad nikah baru ini juga harus baru karena mahar yang diberikan pada Akad nikah Fasid sebelumnya telah hangus dan tidak dianggap setelah suami mensetubuhi istri. At-Tirmidzi meriwayatkan;


“Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda; Wanita manapun yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya sia-sia, nikahnya sia-sia, dan nikahnya sia-sia. Jika dia (mempelai lelaki) mensetubuhinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar karena lelaki itu menganggap halal kemaluannya"(H.R.At-Tirmidzi)

Dalam hadis di atas, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mencela wanita yang menikah tanpa wali. Menikah tanpa wali bermakna Akadnya Fasid yang harus dibubarkan. Namun, jika pihak lelaki terlanjur mensetubuhi pihak wanita, maka mahar yang dibayarkan menjadi hak yang halal bagi wanita tersebut dan tidak bisa ditarik kembali oleh pihak lelaki. Jadi, hadis ini menjadi dalil bahwa mahar yang dibayarkan pada Akad nikah Fasid dihitung hangus jika pihak lelaki telah mensetubuhi pihak wanita.

Tentang tidak adanya syarat Istibro’ pada kasus ini, hal itu disebabkan karena persetubuhan yang terjadi pada Akad nikah Fasid bukan perzinaan dan tidak berlaku hukum-hukum zina. Akad nikah yang Fasid berbeda dengan Akad nikah Bathil. Persetubuhan yang terjadi pada Akad nikah yang Bathil dihukumi perzinaan, sementara persetubuhan yang terjadi pada Akad nikah Fasid tidak dihukumi perzinaan. Akad nikah Bathil adalah jika tidak memenuhi rukun (sendi) nikah seperti menikah tanpa Ijab atau tanpa Qobul atau tanpa Ijab dan Qobul, sementara Akad nikah Fasid, Akad ini memenuhi rukun Akad nikah namun tidak memenuhi sebagian syarat penyempurna keabsahan Akad nikah seperti syarat Istibro’ bagi wanita yang berzina, atau adanya dua saksi dalam Akad nikah. Akad nikah Bathil telah rusak dari segi asasnya, sementara Akad nikah Fasid bukan rusak dari segi asasnya, tapi rusak dari segi salah satu sifat yang dituntut Syara’ agar direalisasikan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mencela nikah Fasid tetapi tidak menghukumi sebagai perzinaan dan menjelaskan konsekuensi hukum zina. At-Tirmidzi meriwayatkan;

“Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda; Wanita manapun yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya sia-sia, nikahnya sia-sia, dan nikahnya sia-sia. Jika dia (mempelai lelaki) mensetubuhinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar karena lelaki itu menganggap halal kemaluannya"(H.R.At-Tirmidzi)

Seandainya persetubuhan dlam nikah Fasid dihitung perzinaan, niscaya akan dijelaskan konsekuensi hukum zina seperti hukuman rajam atau cambukan seratus kali dengan pengasingan selama satu tahun.

Ali r.a. menta’zir (menghukum) orang yang menikah tanpa wali dengan pukulan. Ad-Daruquthni meriwayatkan;


“Dari As-Sya’bi beliau mengatakan; tidak ada seorangpun dikalangan Shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang lebih keras dalam hal nikah tanpa wali selain Ali bin Abi Thalib. Beliau memberikan hukuman pukul karenanya” (H.R.Ad-Daruquthni)

Menikah tanpa wali termasuk Akad Fasid. Seandainya persetubuhan yang terjadi dihukumi perzinaan, niscaya Ali akan merajamnya atau mencambuk seratus kali disertai pengasingan.

Umar bin Khattab juga pernah menerapkan hukuman cambuk pada pernikahan Fasid, bukan hukuman perzinaan. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menukil riwayat As-Syalanji;

“Dari ‘Ikrimah bin Khalid, bahwasanya dalam suatu perjalanan ada kafilah yang di dalamnya terdapat seorang wanita janda. Lalu seorang lelaki meminangnya. Maka ada seorang lelaki yang menikahkannya padahal dia bukan wali wanita itu dengan mahar dan saksi-saksi. Tatakala mereka sampai kepada Umar, maka kejadian itu dilaporkan kepada beliau. Maka umar memisahkan pasangan itu dan mencambuk mempelai lelaki dan lelaki yang menikahkan" (Al-Mughni)

Umar hanya menghukum lelaki yang menikahi dan lelaki yang menikahkan, bukan pihak wanitanya. Ini menunjukkan bahwa hukuman itu adalah hukuman Ta’zir, bukan Had zina. Karena itu, riwayat ini semakin menguatkan bahwa persetubuhan pada Akad nikah Fasid tidak dinilai sebagai perzinaan.

Tentu saja pernikahan yang telah berlangsung 10 tahun dan menghasilkan anak telah merealisasikan Istibro’ berkali-kali karena haid telah dialami berkali-kali sebagai mana telah mengalami masa melahirkan. Oleh karena itu, untuk melangsungkan Akad nikah baru itu tidak perlu lagi melakukan Istibro’ dengan menunggu satu kali haid selesai atau satu kali melahirkan.

Adapun ketentuan bahwa anak yang telah terlanjur lahir Nasabnya tetap sah sehingga berlaku hukum-hukum yang terkait Nasab seperti aspek kemahraman, perwalian, warisan, nafkah, shilaturrahim, birrul walidain, dll maka hal ini didasarkan pada status persetubuhan pada Akad nikah Fasid itu. Oleh karena persetubuhan pada Akad nikah Fasid tidak dihitung perzinaan, maka anak yang lahir Nasabnya tetap sah. Berbeda jika Akad nikahnya Bathil, atau anak lahir dari perzinaan. Dalam kondisi ini anak dihukumi anak zina, yang Nasabnya tidak sah dilekatkan pada ayah dan hanya bisa dilekatkan pada ibu. Lagipula, persetubuhan seperti ini disebut para Fuqoha dengan istilah وَطْءُ الشُّبْهَةِ (persetubuhan syubhat), dan telah diketahui dalam pembahasan fikih bahwa Nasab pada وَطْءُ الشُّبْهَةِ hukumnya sah.

Terakhir, tentu saja berzina adalah dosa. Bahkan terhitung dosa besar. Tidak melakukan Istibro’ sebelum Akad nikah juga terhitung dosa namun bukan perzinaan itu sendiri. Oleh karena itu ada dua dosa yang harus ditaubati, dosa berzina dan dosa tidak melaksanakan Istibro’ sebagai syarat penyempurna keabsahan Akad nikah. Tidak ada kaffaroh tertentu untuk dosa Istibro’ , karena itu taubatnya dilakukan dengan cara memperbanyak istighfar dan memperbanyak amal shalih seperti puasa sunnah, shodaqoh, membantu orang lain dan sebagainya. Hendaknya Tafaqquh Fiddin (belajar dien) juga menjadi program keluarga, karena ketidaktahuan penyikapan hukum-hukum pernikahan seperti ini pangkalnya adalah kurangnya perhatian terhadap program Tafaqquh Fiddin. Anak-anak seyogyanya juga dididik dengan Tafaqquh Fiddin karena sebaik-baik pemberian orang tua terhadap anaknya adalah didikan akhlaq dan ilmu dien, bukan harta. Wallahua’lam.

Diasuh oleh:
Ust. Muhammad Muafa, M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI, Malang, Jawa Timur
Pertanyaan kirim ke: redaksi@suara-islam.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply